Informasi Issue PhenylPropanolamine/Obat Flu Berbahaya
Pada kesempatan yang lalu saya sudah pernah menulis tentang bahaya phenylpropanolamine, nah kebetulan tak lama berselang, HIMFA (Himpunan Mahasiswa Farmasi) UII mengadakan seminar tentang "Menyikapi Maraknya Issue Bahaya Penggunaan Phenylpropanolamine". Sayang untuk dilewatkan mengingat ketertarikan saya tentang issue ini karena banyak sekali obat-obat yang sering kita jumpai di lapangan yang mengndung phenylpropanolamine. Baiklah, disini saya ingin berbagi ilmu dari yang saya dapat di seminar tadi pagi.
Sebenarnya Phenylpropanolamine (kita sebut saja PPA) yang sering di temukan pada komposisi obat flu ini fungsinya adalah menciutkan pembuluh dara pada hidung yang memberi efek melonggarkan hidung yang tersumbat karena flu tersebut. Efek atau khasiat lain dari PPA adalah dapat menahan nafsu makan, sehingga di Amerika, PPA dijadikan sebagai bahan obat pelangsing. Dosis yang digunakan sendiri adalah sekitar 75-150 mg per harinya.
Nah menurut pematerinya, ada sebuah penelitian mengapa kok sebagian yang terserang stroke adalah wanita dan berakhir dengan kesimpulan bahwa storke banyak terjadi pada wanita yang umumnya menggunakan obat pelangsing yang mengandung phenylpropanolamine. Maka saat itu badan POM nya amerika sana menghimbau kepada seluruh industri farmasi unuk menarik oabat-obatan yang mengandung PPA.
Di Indonesia banyak sekali yang menyangkal bahwa produk-produk indonesia yang memakai PPA tidaklah berbahaya karena dosis yang digunakan tidak setinggi yang digunakan di Amerika. Di Indonesia, dosis penggunaannya pada saat itu adalah antara 25-30mg/hari saja. Angka ini jauh dengan dosis yang dipakai di Amerika yang menggunakan antara 75-150 mg/hari. Maka Badan POM indonesia tidak menarik sepenuhnya oabat-obatan yang mengandung PPA, namun badan POM meminta industri farmasi untuk mengurangi kadar PPA yang sekarang hanay di perbolehkan dibawah 15mg/ hari saja. Hal ini masih relatif aman, hal serupa juga dilakukan oleh negara-negara tengga seperti philipina, australia dan berbagai negara lain.
Jadi, bagaimana Sebaiknya???
Tidak sepenuhnya penggunaan PPA itu berbahaya, semua tergantung dengan dosis yang diberikan, dosis yang berlebihan akan menyebabkan kita mudah untuk mengidap stroke. Jadi penggunaan dengan dosis kecil dan tidak mengurangi khasiat obat sangat disarankan karena langkah inilah yang aman. Namun walaupun dikonsumsi dalam dosis yang relatif kecil, masih ada resiko terkena stroke apabila digunakan dalam jangka panjang. Jadi, gunakanlah seperlunya.
Oh yaa, samar-samar terdengar (ngantuk masalahnya gw bos) dalam seminar tadi, ada bahan lain yang dapat digunakan sebagai pengganti PPA yaitu pseudoephedrine. Pseudoephedrine masih tergolong aman, belum ada fakta yang menyatakan bahwa ini berbahaya, namun kita semua berharap semoga pseudoephedrine tidak mengndung unsur berbahaya. beberapa produk obat flu (yang baru saya tahu hanya Inza saja) yang sudah beralih dari PPA ke pseudoephedrine. Namun masih banyak sekali yang menggunakan PPA, mungkin hal ini desebabkan karena PPA lebih murah dibandingkan dengan Pseuephedrine.
Harapan saya untuk produsen obat flu, meski sedikit mahal segeralah beralih ke Pseudoephedrine mengingat angka kematian yang diakibatkan oleh stroke di indonesia relatif besar.





Currently have 0 komentar: